Konstruktivisme adalah teori kognisi lainnya
Setelah teori memori seperti model memori Atkinson-Shiffrin dan model memori kerja Baddeley ditetapkan sebagai kerangka teoretis dalam psikologi kognitif, kerangka pembelajaran kognitif baru mulai muncul pada tahun 1970an, 80an, dan 90an. Saat ini, para peneliti berkonsentrasi pada topik-topik seperti beban kognitif dan teori pemrosesan informasi. Teori-teori pembelajaran ini berperan dalam mempengaruhi desain instruksional. Teori kognitif digunakan untuk menjelaskan topik-topik seperti perolehan peran sosial, kecerdasan dan memori yang berkaitan dengan usia.
Pada akhir abad kedua puluh, kognisi situasional (situated cognition) muncul sebagai sebuah teori yang mengakui pembelajaran saat ini sebagai transfer pengetahuan yang didekontekstualisasikan dan formal. Bredo (1994) menggambarkan kognisi situasi sebagai “pergeseran fokus dari individu dalam lingkungan kunjungi ke individu dan lingkungan”. Dengan kata lain, kognisi individu harus dianggap berkaitan erat dengan konteks interaksi sosial dan makna yang dikonstruksikan secara budaya. Pembelajaran melalui perspektif ini, dimana pengetahuan dan tindakan menjadi tidak dapat dipisahkan, menjadi dapat diterapkan dan bersifat keseluruhan.
Sebagian besar pendidikan yang diterima siswa terbatas pada budaya sekolah, tanpa mempertimbangkan budaya asli di luar pendidikan. Kurikulum yang dibingkai oleh kognisi situasi dapat menghidupkan pengetahuan dengan menanamkan materi yang dipelajari ke dalam budaya yang akrab dengan siswa. Misalnya, sintaksis formal dan abstrak soal matematika dapat diubah dengan menempatkan soal matematika tradisional dalam soal cerita praktis.
Hal ini memberikan peluang untuk mencapai keseimbangan yang tepat antara pengetahuan yang ada dan pengetahuan yang dapat ditransfer. Lampert (1987) berhasil melakukan hal ini dengan meminta siswa mengeksplorasi konsep-konsep matematika yang berkesinambungan dengan latar belakang pengetahuan mereka. Dia melakukannya dengan menggunakan uang, yang sudah familiar bagi semua siswa, dan kemudian mengembangkan pembelajaran dengan memasukkan cerita-cerita yang lebih kompleks yang memungkinkan siswa melihat berbagai solusi serta menciptakan solusi mereka sendiri. Dengan cara ini, pengetahuan menjadi aktif, berkembang ketika siswa berpartisipasi dan bernegosiasi dalam menghadapi situasi baru.
Didirikan oleh Jean Piaget, konstruktivisme menekankan pentingnya keterlibatan aktif peserta didik dalam membangun pengetahuan bagi dirinya sendiri. Siswa diperkirakan menggunakan latar belakang pengetahuan dan konsep untuk membantu mereka memperoleh informasi baru. Saat mendekati informasi baru tersebut, pelajar menghadapi hilangnya keseimbangan dengan pemahaman mereka sebelumnya, dan ini memerlukan perubahan dalam struktur kognitif. Perubahan ini secara efektif menggabungkan informasi sebelumnya dan informasi baru untuk membentuk skema kognitif yang lebih baik.
Konstruktivisme dapat didasarkan pada subyektif dan kontekstual. Berdasarkan teori konstruktivisme radikal, yang diciptakan oleh Ernst von Glasersfeld, pemahaman bergantung pada interpretasi subjektif seseorang terhadap pengalaman dan bukan pada “realitas” objektif. Demikian pula, gagasan William Cobern tentang konstruktivisme kontekstual mencakup pengaruh budaya dan masyarakat terhadap pengalaman.
